Guru Milenial : Ujung Tombak Pencetak Generasi Ideal

Guru adalah pembentuk wajah generasi masa depan. Generasi milenial yang berkualitas diciptakan dari ruang-ruang keluarga dan ruang-ruang kelas. Karena itulah, guru sebagai pencetak generasi masa depan mengemban tugas mulia yang maha berat ini. Mencetak generasi milenial yang ideal. Demikian diucapkan oleh Anis Baswedan, sang menteri Pendidikan kala itu yang sekarang menjadi orang nomor satu di Jakarta

Masih menurut sang menteri, proyeksi kebutuhan pendidikan generasi milenial mencakup tiga komponen yakni karakter/akhlak, kompetensi dan literasi. Sebagai sorang guru sekaligus seorang ibu,  terbayang di benak saya sekilas tentang betapa beratnya mengintegrasikan ketiga hal tersebut dalam diri generasi milenial yang kecanduan gadget. Belum lagi harus menciptakan simbiosis mutualisme atau hubungan yang saling menguntungkan dengan wali murid yang mayoritas juga manusia-manusia milenial yang sibuk. Padahal menciptakan generasi milenial yang berkualitas juga harus didasari sinergitas antara guru di ruang kelas dan orang tua di ruang keluarga. Tanpa jalinan yang manis antar kedua komponen, maka generasi berkualitas hanyalah isapan jempol belaka.

Maraknya kasus yang menunjukkan buruknya akhlak generasi milenial saat ini semakin menasbihkan kegamangan tersendiri dalam jiwa keguruan saya. Bukan pesimis tapi lebih pada realistis. Mendengar banyaknya kisah   kekurangajaran murid terhadap guru atau bahkan banyaknya bullying di lingkungan sekolah meletupkan rasa geram dan marah yang membuncah. Berawal dari kasus pak guru Budi yang harus meregang nyawa karena perbuatan muridnya sendiri, rentetan peristiwa underestimate terhadap guru terus bergulir. Kasus anak-anak SMP yang membully gurunya di ruang kelas,  wali murid yang membalas menggunting rambut ibu gurunya. murid yang memukuli gurunya menjadi berita viral yang menghenyakkan semua kalangan. Tanpa bermaksud membela atau menyalahkan pihak manapun, terbersit satu angan untuk menjadi penengah. Melihat secara obyektif ada apa dan mengapa. Flashback pada dunia pendidikan masa lampau meski guru segarang apapun tak akan pernah ada cerita murid yang dendam kemudian mencegat guru untuk dikeroyok rame-rame. Sekilas pilu dalam prihatin membuat pikir ingin menarik benang merah dari semua insiden memilukan ini. Anak-anak adalah miniatur orang dewasa. Ada banyak faktor yang membentuk karakter anak bisa jadi pola asuh dalam keluarga, lingkungan pendidikan di sekolah dan juga lingkungan  pergaulan di masyarakat.

Sang menteri memberikan petuah bahwa guru sebagai tonggak utama pembentuk generasi harus mempunyai ikhtiar milenial. Guru tidak boleh hanya sekedar mengajar dapat gaji lalu melenggang pulang. Namun lebih dari itu, ada kesadaran tentang pentingnya investasi akhirat yang harus dipunyai guru. Fakta mengatakan, mayoritas guru milenial menjadi material oriented. Mereka hanya fokus pada besaran tunjangan dan jaminan kemakmuran daripada memperbaiki kerusakan generasi sejak dini. Meski tak semua guru demikian, namun bisa dipastikan hal itulah yang menjadi salah satu  faktor  menurunnya akhlak generasi.

Dikatakan dalam sebuah mahfudot Arab bahwa materi pelajaran itu sangat penting, namun strategi mengajar lebih penting dari materi.  Srategi mengajar itu penting namun guru lebih penting dari strategi mengajar. Guru sangat penting namun ruh guru jauh lebih penting. Ruh guru yang dimaksud adalah kesadaran yang dimiliki oleh seorang yang menasbihkan dirinya sebagai guru bahwa guru bukan hanya sekedar profesi. Guru bukan hanya mengejar gaji,  guru bukan hanya menumpuk prestasi tapi lebih dari itu guru adalah pembentuk karakter generasi. Guru adalah pembentuk jiwa-jiwa tangguh nan berani. Guru pencipta pejuang-pejuang masa depan yang  beriman dan berkepribadian. tentu tugas berat ini tak ditanggungnya sendiri. Guru harus bersinergi dengan orang tua maupun elemen masuyarakat lainnya. Tapi ujung tombak pembenuk karakter generasi tetap ada pada pundak guru.

Untuk itu, guru harus mempunyai pandangan jauh ke depan. Karena ilmu yang diajarkan adalah untuk kehidupan di masa mendatang. Proyeksi kebutuhan pendidikan milenial menurut Anis Baswedan meliputi tiga komponen yaitu :

1. Pendidikan Karakter /akhlak

Dunia sudah mengakui hal ini dengan mewabahnya pendidikan karakter di dunia pendidikan. Karakter yang dibentuk mencakup karakter moral seperti iman, takwa, jujur, rendah hati dan karakter kinerja seperti kerja keras, ulet, tangguh, pantang menyerah, tuntas. Tentu kita tak mengharapkan generasi yang terbentuk misalnya generasi yang jujur tapi malas atau sebaliknya pekerja keras tapi culas.

2. Kompetensi

Guru mempunyai tanggung jawab menjadikan  generasi milenial mempunyai kompetensi teruji. Kompetensi itu meliputi empat hal utama yakni kompetensi kritis (tanggap), kompetensi kreatif (menciptakan peluang), kompetensi komunikatif (berkomunikasi) dan kompetensi kolaboratif  (kemampuan untuk bekerja sama)

3. Literasi / keterbukaan wawasan

Guru masa lalu lebih menekankan pada tahu apa, (kognitifnya saja) namun guru milenial harus bisa menggantinya dengan bisa apa (mencakup kognitif, afektif dan psikomotor). Pembuka untuk menguasai banyak ilmu adalah banyak membaca. Maka Literasi adalah kunci. Di Indonesia minat baca tinggi, namun  daya baca buku rendah. Untuk menumbuhkannya, ruang-ruang kelas dan ruang keluarga kembali mendominasi. Dari literasilah mata generasi akan terbuka, melihat betapa jauhnya kita tertinggal. Sudah bukan waktunya lagi kita terpukau dengan kesuksesan masa lalu. Namun sudah waktunya kita memunculkan kesadaran diri untuk berprestasi. Lihatlah sekolah-sekolah terbaik dunia hari ini dan kita akan terpacu untuk menggapai kemenangan. Kemenangan yang dipersiapkan di ruang keluarga dan ruang kelas. Dari kesadaran inilah  kebangkitan akan muncul.

Saya yakin jika generasi milenial Indonesia mempunyai tiga hal tersebut, mereka akan siap terbang menjelajhi dunia milenial dengan gagah. Mereka akan menjadi anak-anak Indonesia yang membanggakan. Dan gurulah ujung tombak dari segala kesuksesan pendidikan. Guru yang mempunyai ruh guru sejati,  tak hanya sekedar mentransfer ilmu tapi lebih dari itu, guru yang mendidik,  menjadikan seorang murid dari nothing menjadi something dan dari no one menjadi some one. Guru yang mampu mencetak generasi milenial ideal yang mumpuni dalam kecerdasannya, stabil emosionalnya, mantap spiritualnya dan kuat mentalnya menghadapi tantangan zaman yang beragam. Semoga.

(salam semangat untuk seluruh guru Indonesia, semoga tak lelah menggapai berkah membentuk generasi Rabbani)

Penulis : Rurin Elfi Farida, S.H.I., M.Pd.I
Editor   : Mustami’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *